Kategori

Ibu Kita Kartini Seorang Motivator dan Inspirator

Diposkan oleh On 7:47 PM


21 April adalah Hari yang sangat bersejarah sebab di hari itu sosok Kaum Hawa ibunda Kartini telah mengukir sejarah besar tentang emansipasi wanita dengan prasasti sejarah yang bertuliskan Habis Gelap Terbitlah Terang. Kebangkitan Wanita tidak hanya pada ranah jiwanya saja namun bangkit dalam perubahan dari ketidak berdayaan menuju hidup yang lebih bermanfaat. Beliau pelopor kemajuan wanita Indonesia yang telah menjadi inspirator bagi seluruh wanita yang ada di Dunia. Membangkitkan pendidikan adalah ide dasar yang dituangkan melalui kegiatan mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya kaum wanita. Tidak membedakan putra bangsawan ataupun putra orang awam semua dicerdaskannya namun tidak meninggalkan kodratnya sebagai bidadari syurga yang menciptakan kesejukan dalam rumah tangga. Sosok bunda Kartini merupakan wanita ideal yang menjadi uswatun hasanah bagi pecinta bangsa dan pecinta keluarga. Senyumnya menghempaskan kehausan akan akan kasih sayang, menciptakan kesejukan dalam setiap penderitaan. Lembut tutur sapanya menciptakan kehalusan budi pekerti luhur dan memperbaiki kerusakan hati yang penuh dendam. Kewibawaannya mejadikan wanita Indonesia lebih kuat sekuat prestasi dan ilmu pengetahuannya. Jika benar ada kemampuan yang kuat tentunya wanita yang mampu menjaga kehormatannya. Jika benar ada keahlian yang lebih profesional tentunya adalah wanita yang  mampu menjaga kodratnya. Jika benar ada yang memiliki kekuasaan yang hebat tentunya wanita yang mampu menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangganya. Keyakinan bahwa kalian wahai kaum wanita dengan meneladani bunda kartini maka jadilah wanita yang benar-benar memiliki kematangan sosial, emosional, profesional, dan spiritual.

Bunda Kartini adalah motivator bagi semua wanita kalau dia selalu mengutamakan keluarga dan meluluhkan segala kesombongan, kebiadaban, ketertindasan, dan kemarahan. Citra lemah memicu semangat untuk berubah, merubah segala keadaan yang lama tersungkur dalam keterpurukan. Mendobrak pintu kebodohan menuju pada cahaya yang terang benderang yaitu persamaan hak sebagai bangsa Indonesia tanpa harus meninggalkan kodrat sebagai seorang wanita.

Bunda Kartini
Bunda Kartini sebutanku dari Ibu Kita Kartini, kau tidak hanya milik semua orang, namun kau adalah pengisi hidup ini. Bunda kartini aku menyebutmu karena engkau sehangat bundaku dalam hati dan jiwaku. Bunda Kartini adalah inspirator kebanggaan karena kebahagiaanku adalah memiliki Ibu yang telah memberikan kesejukan dan kelembutan dalam jiwa yang marah. Dan kepuasanku adalah jika aku bisa membuat ibuku tersenyum bangga atas baktiku kepada orang tua untuk membahagiakannya, terutama ibu. Dan kesuksesan hidupku jika aku sujud dikaki bunda saat disyurga. Ya Rabb Izinkan langkah hidup ini menuju pada RidloMu, Kuatkan dari segala cobaan dan teguhkan hati ini dalam iman-Mu serta tolonglah kami semua dalam Rahmat-Mu.

Tawangrejo, 21 April 2014
Karya : Ravindra

Sumber gambar wikipedia.org


Apresiasi Karya Seni Wayang Kulit (Seni Rupa Dua Dimensi)

Diposkan oleh On 10:21 PM

Mempertahankan budaya khususnya budaya Jawa memang butuh tenaga ekstra, bahkan disetiap kesempatan kita berusaha untuk mengisinya dengan karya seni yang berhubungan dengan budaya jawa, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar yang saya lakukan, ketika materi kita sudah sampai pada materi hiasan dekorasi dan seni rupa dua dimensi maka pada kesempatan kali ini saya sebagai guru seni budaya mengajak siswa untuk membuat hiasan dekorasi dengan dua dimensi yang bertemakan wayang kulit. Secara otomatis mereka berusaha untuk mencari gambar-gambar tokoh pewayangan, karena kebanyakan mereka tidak mengenal maka saya memberikan beberapa nama tokoh pewayangan yang sedikit-sedikit siswa pernah mengenalnya, seperti Punakawan, Pandawa Lima. akhirnya mereka bisa menemukan nama-nama tokoh yang lain diinternet. Tugas mereka para siswa adalah menggambar tokoh pewayangan itu, dengan media treplek dan menggunakan cat tembok mereka berusaha membuat gambar tersebut. Untuk menghindari gambar yang sama maka saya biarkan mereka memilih gambar mana yang disukai, asal berbeda dengan kelompok lain. Saya buat beberapa kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 2 sampai 3 orang ini terkandung maksud bahwa biaya yang dikeluarkan bisa ditekan, yang terpenting mereka sama-sama bekerja dan mengenal tokoh pewayangan tersebut. Ukuran Triplek kurang lebih 40 x 60. Triplek 1 lembar menjadi 12 potong. Awalnya mereka kesulitan untuk membuatnya, terlalu rumit mereka berkomentar, tapi saya punya cara agar gambar tidak beda jauh, maka saya gunakan sistem skala perbandingan, dengan cara memberikan garis bantu pada gambar yang sudah diprint dan pada media triplek yang akan digambar, namun sebelumnya didasari dengan cat warna putih agar hasil karyanya nati cerah dan tidak kusam. Untuk cat yang kita beli atas iuran siswa yaitu cat warna biru, kuning, merah, hitam dan putih serta warna emas. Masing-masing kemsan 1 kg untuk satu kelas. kemudian dibagi atau mengambil secukupnya. bahan dan Peralatan yang dibutuhkan diantaranya :
  • Sendok makan stenlissteel (untuk Mengambil cat diwadah) 6 buah
  • Gelas plastik bekas air mineral 20 buah
  • Ember untuk cuci kuas 1 buah
  • Kuas 6 buah (kuas serabut berbentuk pagoda ukuran 1)
  • Lap Kain Secukupnya
  • Air
  • Cat (Hitam, Putih, Merah, Kuning, Biru, Emas) Mengenai warna yang lain harus mencampur sendiri
  • Triplek
  • Cutter untuk memotong triplek (saya menggunakan ini sebab hasil potongannya halus, tidak seperti hasil potongan dengan menggunakan gergaji.
  • Penggaris
  • Pensil
  • Stip
  • Figura (Sebegai pelengkap, agar jika dipasang terlihat Elegan)
Selamat mencoba dirumah, sebab karya ini juga bisa menjadi hiasan dinding yang cantik dan etnik penuh dengan nilai-nilai budaya. Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi kita semua khusunya guru seni budaya agar dengan berkarya mereka mampu memberikan apresiasi yang baik terhadap nilai-nilai budaya yang luhur khususnya budaya jawa. Siswa kami juga pernah saya beri tugas untuk membuat karya kaligrafi dengan media yang sama yaitu triplek, dengan peralatan yang dibutuhkan juga sama seperti diatas, tekniknya juga sama menggunakan skala perbandingan dan temanya berbeda. Maka hasilnya juga bagus, walaupun memang ada beberapa yang masih butuh bimbingan secara lebih serius lagi. 
Berikut adalah dokumentasi saya, semoga bisa menginspirasi anda.








Dokumen diatas diambil saat kegiatan belajar mengajar di MA Roudlotusysyubban Tawangrejo Kelas XII-IPA.

Salinan Permendikbud No.54 Tahun 2013 Tentang SKL

Diposkan oleh On 5:34 AM

Salinan Permendikbud no. 54 tentang SKL ( Standar Kompetensi Lulusan) untuk pendidikan dasar dan menengah akan kami persembahkan untuk anda para guru, sebab ini penting untuk diketahui. Jika anda menginginkan Artikel kami secara UP Date maka daftar aja menjadi Follower saya. dan kepentingan anda akan saya penuhi dengan semampu saya. mengenai apapun yang berhubungan dengan Keguruan. saya juga mengajak para guru untuk menjadi follower pada blog saya yaitu www.mediamengajar.blogspot.com. sebab disitu akan saya pasang bentuk-bentuk media terutama program power point yang sengaja saya kumpulkan dari teman-teman untuk diberikan secara gratis untuk para guru. Ini adalah sumbangsih saya untuk guru seluruh Indonesia. Saya juga berharap agar para guru yang memiliki media pembelajaran untuk diposting dalam web ini dengan mengirimkan ke ... ravlas7@gmail.com , agar mudah diakses oleh guru-guru yang lain. Mantab Bro Guru. Semoga ilmu kalian Bermanfaat.


  • Salinan Permendikbud No.54 Tahun 2013 Tentang SKL   Download PDF
  • Lampiran Permendikbud No.54 Tahun 2013                     Download PDF



Globalisasi dan Ketahanan Budaya di Indonesia

Diposkan oleh On 5:33 AM

Ketika kita menyebut globalisasi dan ketahanan budaya dibenak kita muncul wajah indonesia. Keindahan yang tiada tara. Jumlah desa persawahan laut dan anak sungai hingga beraneka seni dan wujud arsitektural yang tak terhingga nilai karakter dan kandungan estetiks didalamnya. Indonesia dalah bangsa yang besar terdiri atas berbagai suku, budaya dan agama. Kemajemukan itu merupakan kekayaan dan kekuatan sekaligus menjadi tantangan bagi bangsa indonesioa. Selain membutuhkan kebersamaan dan persatuan menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara memerlikan kewaspadaan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Mengapa demikian? Diantara jawabannya adalah perbedaan latar belakang individu. Jalmo tan keno kiniro kinoyo op, kata pepatah.

Kita masih ingat betapa gigihnya para pemuda yang berasal dari berbagai daerah menyadari sepenuhnya kekuatan yang perlu dibangun dari persatuan dan kesatuan nasional. Mereka sepakat untuk bersatu padu melalui sumpah pemuda untuk menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan yaitu indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928. Semangat dan gerakan untuk bersatu padu itu menjadi sumber inspirasi bagi munculnya gerakan yang terkonsolidasi untuk membebaskan diri dari penjajahan hingga tercapainya proklamasi kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, dari sabang sampai merauke, yang merdeka berdaulat untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional yang bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika.

Ketika Emha Ainun Najib menulis buku Indonesia bagian dari desa kita, dihadapkan informasi kejenakaan sekaligus ketakjuban, bahwa indonesia membentang cakrawala nanluas kang subur lan tinandur hingga ketidaksiapan menghadapi tehnologi. Secara historis perjalanan negara indonesia telah terjadi pergolakan dan pemberontakan sebagai akibat penyalahgunaan kekuasaan yang sentralistis, tidak terselesaikannya perbedaan pendapat diantara pemimpin bangsa, serta ketidak siapan masyarakat dalam menghormati perbedaan pendapat. Akibat muncul ketidak adilan, konflik vertikal antara pusat dan daerah maupun konflik horizontal antara berbagai unsur masyarakat, pertentangan ideologi dan agama, kemiskinan struktural, kesenjangan sosial, dan lain-lain hingga keidakpercayaan terhadap pemimpin, masa bodoh dan apriori, termasuk ketidak berdayaan memfilter kebudayaan asing yang tidak relevan dengan kebudayaan indonesia.
Kita renungkan betapa tak terhingganya leluhur kita mewariskan sejumlah budaya dan kesenian tradisional yang syarat filosofi itu kian tak mendapat tempat. Eksistensinya digerus kesenian kontemporer dan mordernism ditengah masyarakat. Pro dan kontradiksi terhadap warisan leluhur sangat menarik untuk dikaji. Anggapan berkutat dengan seni tradisional adalah masa lalu, ketinggalan dan tindakan melawan jaman juga perlu disimak lebih konfrehenship. Megapa kita kebakaran jenggot ketika salah satu warisan leluhur kita diklaim sebagi budaya oleh negara malaysia. Bukankah pergerakan budaya asing ke Indonesia berlangsung sejak jaman pra aksara menyebar bersamaan dengan migrasi kelompok manusia purba, yang hidup secara nomaden. Selanjutnya dibawa oleh kaumpenjajah dari barat maupun asia. Secara alamiah tak bisa dihindari ketika perubahan sosial dan dinamika budaya berjalan. Gunung Ilang Pucukke, pasar Ilang Kumandangae adalah diantara kekhawatiran dan realitas.
Teknologi informasi dan komunikasi menjadikan dunia ini kian dekat. Apa yang sedang terjadi di Negara lain dapat kita saksikan dinegeri sendiri, tanpa harus beranjak dari kamar. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan anak emas globalisasi. Ia menjadi katalisator penyebaran budaya. Kita tidak bisa menghindar. Dunia mengalami keterbuakaan. Akibatnya muncul ketelanjangan, rasa sinis, malu bangga, dan seabrek kata cemas, was was sekaligus tertawa. Suka atau tidak, kita ada didalamnya. Globalisasi menciptakan kekhawatiran dan kerugian meski dipihak lain diterima sebagi keberuntungan.
Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media. Globalisasi terjadi kerena faktor nilai-nilai budaya luar. Seperti :
  1. Selalu meningkatkan pengetahuan
  2. Patuh hukum
  3. Kemandirian
  4. Keterbukaan
  5. Rasionalisasi
  6. Etos kerja
  7. Kemampuan memprediksi
  8. Efisiensi dan produktifitas
  9. Keberanian bersaing
  10. Manajemen resiko

Gobalisasi terjadi melalui berbagai saluran, diantaranya
  1. Lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan
  2. Lembaga keagamaan
  3. Industri internasional dan Lembaga Perdagangan
  4. Wisata mancanegara
  5. Saluran Komunikasi dan telekomunikasi internasional
  6. Lembaga Internasional yang mengatur peraturan internasioanl
  7. Lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler


Manusia terus mencari, memilah, memilih dan mendepkripsikan. Ada kebanggaan sekaligus keraguan diera modern seperti sekarang ini difusi berjalan sangat cepat dan efektif. Pergumulan budaya semakin intens melalui radio, televisi, buku, majalah, dan internet. Globalisasi tak terbendung. Disetiap ruang meretas batas antar negara. Tak ada batas , mudah terbaca sekaligus kabur batasnya. Dunia ada disegenggam tangan. Kotak ajaib seukuran korek api itu kita bisa melihat orang yang sedang mandi, memasak dan dinikmati sembari minum teh, ngobrol denga teman hingga sembari buang hajat diruang yang sangat terbatas. Secara visual tersaji apa yang dibutuhkan. Tak ada kata tidak. Selanjutnya terserah anda adalah kata basi, tetapi mudah tercerna telinga.




Macam - Macam Penyakit Hati dan Cara Pengobatannya

Diposkan oleh On 9:34 PM

Artikel ini dikirim oleh Pipit Larasati agar bisa bermanfaat bagi orang lain dalam mengatasi berbagai persoalan manusia terutama persoalan sosial yang bersumber dari penyakit hati. Oleh karena itu bagi yang terindikasi adanya penyakit hati yang diderita, maka sebaiknya pembaca yang budiman mau membaca artikel berikut dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan kehidupan bermasyarakat lebih baik dan berbuah pada hubungan dengan masyarakat lebih kondusif dan penuh dengan kasih sayang untuk saling membantu dan bekerjasama serta saling menghormati antar sesama. Semoga bermanfaat. Bagi yang mau ikut berpartisipasi untuk mengirimkan makalahnya tolong bisa disertai Foto dengan Gaya

Hatimu yang Sehat, Sakit, atau Mati
Oleh : P i p i t  Larasati

Persoalan hati adalah hal yang penting karena hati inilah yang menjadi komando bagi tubuh. Tubuh akan berbuat baik jika hatinya baik dan akan bertindak buruk jika hatinya buruk. Dengan karakteristiknya yang tidak menentu, hati bisa berubah dengan sekejap dari taat menjadi ingkar. Hal itu karena dalam hati ada penyakit yang mengacaukan tindakan dan pikirannya.
Hati merupakan bagian terpenting bagi manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab kelak di akhirat atas apa yang telah diperbuat. Hubungan hati dengan organ tubuh lainnya laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Hati adalah sebagai pengendali sekaligus pemegang komando terdepan. Oleh karena itu semua anggota tubuh berada di bawah komando dan dominasinya. (Al Ghazali,1986: 146).
Hati inilah raja kita, segala perintah wajib dilaksanakan dan menerima segala keputusannya. Hatilah yang menjadi penanggungjawab dan mengkoordinir semua tindakan kita, dan setiap pemimpin pasti akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya. Robert Frager menyebut hati adalah kuil yang ditempatkan Tuhan di dalam diri manusia. Maka jika dia melukai hati manusia lainnya, dosanya lebih besar daripada merusak sebuah tempat suci di dunia ini. (Frager, 2002: 55).
Selain sebagai kuil hati adalah tempat yang dilihat Allah. Jadi hatilah yang menjadi perhatian utama Allah. Hati seseoranglah yang mengontrol akhlaknya, menahan emosinya, mengatur etikanya, dan memperbaiki karakternya yang sesat. Fakta di dalam masyarakat status sosial merupakan pemicu munculnya penyakit hati. Contohnya saja, kehidupan bertetangga di kampung dan di kota sangatlah berbeda. Kehidupan di kota orangnya lebih cenderung cuek bila dibandingkan dengan di desa. Hal ini didukung dengan fakta yang terjadi di masyarakat pedesaan khususnya. Apabila ada tetangga yang mempunyai barang baru yang tidak bisa kita miliki, biasanya ada rasa iri atau dengki di dalam hati kita. Hal inilah yang disebut dengan hati yang sakit (Qalbun Maridh). Yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati orang yang taat terhadap perintah-perintah Allah tetapi kadangkala juga berbuat maksiat dan kadang-kadang salah satu diantara keduanya saling berusaha untuk mengalahkan sehingga adanya hati yang sakit ini, hubungan antar tetangga menjadi runyam atau kurang harmonis di dalam kehidupan bermasyarakat.
Hati Yang Sedang Sakit
Untuk mengetahui penyakit hati mari kita analogikan bagaimana seorang dokter mendiagnosa penyakit seorang pasien. Langkah  yang dilakukan dokter adalah memeriksa pasien dengan teliti dan seksama. Mempelajari tanda dan gejalanya guna memastikan ada tidaknya penyakit dan apa jenis penyakitnya. Misalkan penyakit jasmani yang ada pada tubuh kita juga bisa sakit. Allah SWT menciptakan setiap anggota tubuh memiliki fungsi sendiri-sendiri serta dituntut untuk melaksanakan fungsinya masing-masing, namun ketika sakit maka fungsi penciptaan tersebut tidak bisa berjalan dengan sempurna. Seperti tangan yang sakit tidak dapat memegang, mata sakit tidak dapat melihat, mulut sakit tidak dapat berbicara, telinga sakit tidak dapat mendengar. Setelah lengkap informasinya maka dokter akan melakukan langkah-langkah selanjutnya untuk pengobatan. Dengan harapan para pasien bisa sembuh dari penyakitnya. Melihat cara yang dilakukan dokter terhadap pasien dalam menyembuhkan penyakit jasmani, maka kita juga bisa menentukan langkah-langkah bagaimana mendeteksi penyakit hati melalui beberapa diagnosa. Diantara tanda-tanda penyakit hati yaitu  tidak berfungsinya daya yang dimiliki oleh hati yaitu daya ilmu atau akal, daya marah, dan daya syahwat. Artinya hati tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Tanda-tanda hati yang sedang sakit yang lainnya adalah merasa gelisah, tidak tenteram, was-was, iri terhadap kebahagiaan orang lain, suka curiga, negative thinking, tidak pernah merasa puas, penderitaan lahir batin, suka marah-marah dan tidak lapang dada.
Menurut Al-Ghazali fungsi utama hati adalah tempatnya ilmu , hikmah, ma’rifah, mencintai Allah, beribadah kepadanya, merasa lezat dengan menyebut-Nya. Untuk meendeteksi penyakit bisa juga dengan memanfaatkan lisan orang lain untuk mengetahui aib diri kita sendiri. Biasanya orang lainlebih jujur yang akan mengungkapkan segala keburukan kita. Ketika penyakitnya sudah ditemukan, selanjutnya mengikuti prosedur pengobatan yang tepat dengan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Sehingga pengobatannya bisa tepat sasaran ? Hal pertama yang bisa dilakukan adalah self correction atau koreksi diri. Self correction merupakan langkah awal yang baik untuk membasmi penyakit hati. Karena hati yang selalu menegur dirinya maka akan senantiasa melakukan perbaikan secara terus menerus dari segala kesalahan.
Jika self correction sulit untuk dilakukan, hendaknya kita bisa mencari seorang teman yang jujur, sangat mengetahui dan kuat beragama, serta menjadikannya sebagai pengawas diri kita agar selalu memperhatikan berbagai keadaan dan perbuatan kita. Bisa juga menurut Al Ghazali bahwa berinteraksi dengan masyarakat, lalu setiap hal tercela yang dilihatnya setidaknya bisa dinisbatkan pada diri kita. Atau menjadikan orang lain sebagai cermin. Sehingga dia bisa melihat sendiri dengan cara bercermin dari aib-aib orang lain.
Jika hati mengenal penciptaan-Nya dan memahami fungsi utamanya maka harus dibuktikan dengan cinta (mahabbah). Namun jika seseorang lebih mencintai apa yang dimiliki selain Allah, maka itu pertanda hatinya sakit. Seperti halnya perut yang lebih menyukai tanah daripada roti, berarti perut itu telah sakit (Hawwa,2006:181-183).
Hati yang hebat karena sebagai perangkat untuk melakukan aktivitas zikir, yang pada gilirannya akan membangun sebuah moralitas dan akhlak karimah yang menjadi landasan kuat untuk segala aktivitas. Namun, sayang tidak semua hati manusia dapat dijadikan sebagai perangkat untuk membangun aktivitas zikir. Mengapa bisa terjadi demikian ? Tidak lain, bahwa hati itu terbagi menjadi tiga jenis, yaitu hati yang mati, hati yang mengidap penyakit, dan hati yang hidup.
Mengetahui tanda-tanda sakitnya hati dapat diketahui bahwa hakikat penyakit hati adalah kerusakan yang terjadi di dalam jiwa seseorang sehingga hati orang tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana tujuan penciptaannya yang kemudian bisa merusak pikiran dan keinginan kita, sehingga muncullah perbuatan yang menentang syari’at Allah.
Hati Yang Mati
Penyakit hati itu berbeda dengan penyakit fisik. Seringkali si penderita penyakit hati tidak menyadari kalau dirinya sakit,  ada juga yang tahu kalau dirinya memiliki penyakit hati tetapi bersikap antipati sehingga penyakitnya semakin parah. Hati yang sakit dan sudah sangat parah akan menyebabkan matinya hati.  Sebagai contoh Penyakit hati yaitu syirik, kufur, munafik, sombong, riya’, iri, hasad, boros, kikir, gila harta dan kekuasaan, marah, dendam, rakus, dll. Orang yang mengidap penyakit hati akan timbul dua kemungkinan, hatinya bisa mati jika tetap dibiarkan berpenyakit dan akan sehat jika disembuhkan.
Dampak buruk jika hati dibiarkan sakit maka akan berpengaruh terhadap perilaku suluknya. Karena hati yang berpenyakit maka akan memengaruhi pikiran, ucapan, dan tindakan yang buruk sehingga menghambat suluknya, sebagaimana dituturkan oleh Syukur,dkk. Seperti penyakit hasut akan berupaya untuk berbuat jahat pada yang dihasudi. Perasaan dengki akan berusaha menyakiti orang. Penyakit bakhil akan selalu mencegah hartanya untuk diinfaqkan, dan lain sebagainya. Idealnya tiap penyakit punya obatnya masing-masing.
Matinya hati, hati yang berpenyakit dan hidupnya hati tergantung si pemilik hatiitu, sebagaimana seseorang yang memiliki tanaman. Ada orang yang tidak merawatnya, menyiraminya, memupuknya, maka matilah tanaman itu. Ada juga orang yang merawat, menyiram, memupuk, tetapi tidak tahu caranya, maka tanaman itu pun tidak subur tetapi juga tidak mati, artinya tanama itu berpenyakit. Hati juga ibarat cermin, jika cermin itu kotor, bahkan rusak maka tidak bisa untuk mengoreksi aib kita sendiri. Membersihkan cermin kita setiap hari dengan berdzikir kepada Allah merupakan upaya nyata untuk memperbaiki diri.
Contoh Penyakit Hati dan Cara Mengobatinya
Hati berada pada posisi yang baik jika di tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun kurang. Karena jika demikian maka akan bermunculan macam penyakit hati yang harus disucikan dari diri manusia antara lain : Pertama, yang disebabkan oleh syirik. Sesungguhnya penyakit syirik diawali dari menyembah selain Allah, sampai pada perbuatan-perbuatan yang sesat dan perilaku-perilaku yang jelek seperti dengki, sombong, dan bersekutu dengan setan. Sehingga upaya yang harus dilakukan dalam menyucikan diri adalah dengan menghilangkan kesyirikan di dalam hati kita. Percaya adanya Allah dan selalu menyembah kepadanya. Di sini hati memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan sikap seseorang.
Kedua, yang disebabkan oleh hati seseorang yang ditutupi dengan kegelapan karena hal-hal yang keji seperti munafik, kufur, fasik, bid’ah, keraguan atas kebenaran, kemaksiatan dan dosa-dosa yang lain. Hal ini bisa ditanggulangi dengan menghilangkan kegelapan di dalam hati yaitu memasukkan cahaya Ilahi ke dalam hati sehingga dapat melihat sesuatu yang benar.
Ketiga, penyakit hati yang disebabkan oleh syahwat (keinginan yang tidak terkendali). Diantaranya adalah : mau menang sendiri, senang kepada harta, kedudukan, dan lain sebagainya. Syahwat yang dipenuhi dengan cara bathil hukumnya haram dan itulah merupakan bagian yang harus dihilangkan dalam upaya menyucikan diri.
Keempat, penyakit hati yang dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya lingkungan, pergaulan dan godaan syetan (was-was). Jadi pengaruh tersebut datang baik dari syetan maupun dari orang-orang yang sesat. Karenanya sesuatu yang harus dilakukan dalam menyucikan diri adalah tidak mengikuti langkah-langkah syetan dan orang yang sesat.
Namun mengingat begitu beragam penyakit hati, metode penyembuhannya bisa dilakukan secara umum diantaranya : Dengan cara melalui metode ekstern, yaitu diadakannya pengajian-pengajian secara rutin. Sedangkan dari segi intern kita bisa menerapkan konsep “tombo ati”, seperti yang diterapkan dalam buku “Terapi Hati Dalam Seni Menata Hati” karya Syukur dan Fatimah yang meliputi : 1) Memahami risalah Tuhan dan mengamalkannya, 2) Menjalankan shalat, 3) Berteman dengan orang-orang yang shalih 4) Tirakat melalui puasa  5) Memperbanyak dan memperbagus dzikir.
Dalam menghadapi suatu masalah kita harus ikhlas, karena ikhlas adalah sikap mental yang bisa menutup rapat-rapat pintu syetan masuk ke dalam diri kita yang dapat mempengaruhi pola pikir kita sehingga kita mampu beramal semata-mata karena Allah. Selain itu, kita harus senantiasa Mukhajabah, yakni senantiasa mengamati baik buruk amal perbuatan kita serta apa manfaat dan bahaya penyakit hati jika kita selalu menerapkannya.
Menurut Al-Ghazali jalan pengobatan hati dengan menempuh jalan yang berlawanan dari kecenderungan hawa nafsunya disertai dengan azam yang kuat serta istiqomah. Contohnya, penyakit bodoh dapat diobati dengan belajar, kikir diobati dengan kemurahan berinfaq, penyakit sombong dengan merendahkan diri, sifat marah diobati dengan sopan santun dan berdiam diri, sifat pengecut dan lemah hati diobati dengan keberanian. Memang nampak sulit untuk dilakukan, namun selama kita istiqomah dalam menjalaninya maka hal itu akan menjadi mudah. Inilah jalan-jalan yang bisa ditempuh untuk mengobati penyakit hati dan mengantarkannya menuju ridlo Allah SWT.
Baiknya akhlak dikarenakan hidup dan sehatnya hati, sedangkan buruknya akhlaq dikarenakan sakit dan matinya hati. Menurut Said Hawwa, hati yang sehat itu sebenarnya adalah yang diliputi oleh tauhid, dimana kita selalu mengakui status kehambaannya. Menurutnya titik awal dalam kesehatan hati adalah kalimat tauhid dan memberikan cahaya tauhid kepada hati. Jika hati sudah bercahaya tauhid yang murni dan melihat semua hal sebagai “perbuatan dan karya” Allah SWT, maka dia akan mengahadapi semua musibah dengan sabar, berserah diri, ridha, tawakkal, ikhlas, dan khusyu’. Jika hati sudah bertauhid maka hati akan menerima agama Allah secara total dan saat itu pula dia bisa menghindari syirik, baik syirik kecil maupun syirik besar yang merupakan pangkal dari penyakit hati. (Hawwa,2006:201-204). Untuk itu jalan menuju kesembuhan hati adalah dengan kembali kepada Allah melalui latihan-latihan yang telah dijelaskan dalam pembahasan pengobatan hati tadi.Karena hanya hati yang sehat yang bisa sampai kehadirat-Nya.
Dengan demikian, hati ini sangat layak untuk dijaga dan dilindungi dari berbagai kotoran dan wadah penyakit serta dijaga dari keburukan syaitan. Dimuliakan dengan berbagai kemuliaan agar permata mulia itu tidak terkena noda serta tidak dikalahkan oleh musuh yaitu syaitan.


Karya              : Pipit Larasati
NIM                : 132411009
Kelas               : FSEI-D


Editor : Ravindra, S.Pd.I
Bukti Emai yang dikirim






Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Diposkan oleh On 10:35 PM

Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
a. Prestasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang dicapai dari yang telah dilaksanakan atau dikerjakan.[1]
Sedangkan menurut Muchtar Buchari, prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atau seharusnya tercapai.[2]
b.  Belajar
Belajar merupakan hal yang kompleks, karena banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mengenai pengertian belajar para ahli berbeda dalam mengemukakan argumentasinya.
Menurut M. Dalyono, belajar adalah suatu usaha, perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki baik fisik, mental serta dana, panca indera, otak dan anggota tubuh lainnya, demikian aspek-aspek kejiwaan seperti intelegensi, bakat, motivaasi, minat dan sebagainya.[3]
Menurut Winkell, belajar adalah dapat didefinisikan mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pemahaman-pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.[4]
Di sisi lain Hilgard sebagaimana yang dikutip S. Nasution mengatakan Lerning is the prosess by which an activity originates or is changed trough training procedurs. Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan.[5]
Menurut Oemar Hamalik, belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.[6] Belajar akan lebih baik apabila si anak memahami dan mengetahui lebih dulu apa yang akan dipelajarinya.[7]
c.  Prestasi Belajar
Berbicara tentang prestasi belajar tidak bisa lepas dari pengetahuan elemen-elemen apa saja yang esensial dalam belajar itu. Menurut Gegne sebagaimana yang dikutip Ahmad Tafsir, bahwa elemen-elemen yang esensial dalam belajar ada 3 yaitu: Pelajaran, stimulus (materi pelajaran) dan respon (daya serap siswa).[8]
Menurut Mukhtar Bukhori prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah mengkuti usaha melalui pendidikan dan latihan.[9]
Sedangkan menurut Ngalim Purwanto bahwa yang dimaksud prestasi belajar adalah kemampuan maksimal dan tertinggi pada saat tertentu oleh seorang anak dalam rangka mengadakan hubungan rangsang dan reaksi yang akhirnya terjadi suatu proses perubahan untuk memperoleh kecakapan dan ketrampilan.[10]
Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam skripsi ini adalah hasil atau prestasi belajar bidang studi bahasa Arab, artinya hasil nyata yang dapat dicapai oleh siswa pada saat tertentu dalam bidang studi bahasa Arab.
Tujuannya adalah untuk evaluasi sejauhmana kecakapan siswa dalam hal ini kognitif, afektif dan psikomotor.[11]
2.       Indikator Prestasi Belajar Bahasa Arab
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau yang hendak diukur).[12] Dan indikator tersebut meliputi ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), ranah karsa (psikomotor).[13]
Adapun indikator pencapaian hasil belajar bahasa Arab yaitu sebagai berikut:
  1. Menyusun kalimat dengan menggunakan kata-kata yang disediakan.
  2. Melakukan tanya jawab dengan mufrodat dan struktur kalimat yang diajarkan.
  3. Menggunakan mufrodat dengan tepat dalam kalimat-kalimat yang disediakan.
  4. Menggunakan pola-pola kalimat maupun ungkapan-ungkapan yang telah mereka pelajari.[14]
Untuk mencapai indikator prestasi hasil belajar bahasa Arab, maka diperlukan adanya ranah yang bersifat kognitif dari peserta didik, karena ini akan membentuk siswa mampu berbahasa Arab dengan baik. Dan ranah ini meliputi aspek-aspek kemampuan yang berupa kecakapan baik secara aktif maupun secara pasif, kecakapan ini meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.[15]
e.    Kecakapan Mendengar/Menyimak
Kecakapan menyimak atau mendengar (الاستماع) ini bersifat pasif hanya menerima apa yang disampaikan saja oleh pembicara atau penulis dalam bahasa lisan dengan secara tepat dan urutan yang benar.[16]
Adapun manfaat bagi siswa yang mampu menyimak dengan baik adalah:
1)      Mampu menguasai sistem bunyi bahasa.
2)      Mempu memiliki sejumlah kosa kata (mufrodat) kelompok kata ataupun ungkapan kata.
3)      Memperluas wawasan kebangsaan.
4)      Dapat memperkaya pengetahuan.[17]
Dalam buku “Metodologi Pengajaran Bahasa” kecakapan menyimak bertujuan agar siswa dapat menangkap ungkapan orang lain dengan menyimak dan memahami karya fikiran orang lain dengan cara:[18]
1)      Cepat, artinya seorang siswa hendak selalu siap dan tanggap untuk menangkap buah fikiran orang lain yang diungkapkannya dalam waktu normal.
2)      Cermat, artinya seorang siswa selalu bersikap teliti serta hati-hati dalam menangkap karya fikiran orang lain dengan penuh kesadaran diri sendiri.
3)      Tepat, artinya seorang siswa harus dapat menangkap ucapan orang lain dengan cara yang tepat, tidak mengurangi dan tidak pula menambahi. Sehingga hanya akan menambah kaburnya pengertian yang terkandung.
f.  Kecakapan Berbicara
    Dalam bahasa Arab, kecakapan ini dikenal dengan (المحادثه) yang berarti bercakap-cakap atau berbicara bersifat aktif, karena di dalamnya terdapat suatu kecakapan. Ini mendorong untuk dapat mengungkapkan dan menerangkan dengan lisan apa yang tersirat dalam hati dengan bahasa ucapan yang benar serta sesaui dengan apa yang dimaksud.[19]
    Kemampuan menggunakan bahasa lisan dalam bahasa Arab mempunyai tujuannya yang hendak dicapai sebagai berikut:
    1)   Agar para siswa terbiasa bercakap-cakap dengan bahasa Arab yang fasih.
    2) Agar para siswa pandai mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya serta mampu menyusun kalimat sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar.
    3) Agar para siswa pandai memilih kata-kata dan kalimat, kemudian mampu menyusun dengan memilih susunan bahasa yang indah dan sesuai aturan.[20]
    g.  Kecakapan Membaca
      Membaca dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah (القرأة dan المطالعه) dalam pelajaran membaca yang ditekankan adalah siswa dapat menangkap bahasa tulisan dengan cermat sesuai dengan struktur bahasa yang benar.[21]
      h.  Kecakapan Menulis
        Kecakapan menulis adalah kemampuan memilih kata dalam menyusun suatu kalimat, tentunya dengan menggunakan ceramatika bahasa yang benar.[22]
        Untuk menyusun sebuah kalimat, tentunya tidak akan terlepas dari tiga komponen yaitu subyek, predikat, dan obyek, maka dalam struktur bahasa Arab tidak hanya mempelajari aspek morfologi (الصرف), tetapi lebih penting adalah mengerti kedudukan kata dalam kalimat.[23]
        Metode campuran merupakan kombinasi dari metode ceramah dengan Qowaid. Dengan pengertian guru menjelaskan lebih dahulu dengan menggunakan ceramah, setelah itu menyimpulkan kaidah, maka guru memberikan contoh untuk menerapkan kaidah itu.[24]
        3.  Batas Minimal Prestasi Belajar
          Seorang guru harus memiliki acuan penilaian atau patokan yang merupakan penilaian yang dilaksanakan dengan menetapkan lebih dulu patokan yang dipakai sebagai pembanding terhadap semua hasil pengukuran.[25]
          Setelah mengetahui indikator prestasi belajar belajar, guru perlu pula mengetahui bagaimana kiat menetapkan batas minimal keberhasilan belajar para siswa dengan mempertimbangkan batas terendah prestasi siswa yang dianggap berhasil dalam arti luas yaitu keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.[26]
          Ada beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dengan angka terendah yang menyatakan kelulusan/ keberhasilan belajar (passing grade) skala 0–10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0-100 adalah 55 atau 60.[27]
          Siswa dikatakan menguasai bahan apabila siswa mencapai sekurang-kurangnya 75 % tujuan instruksional khusus yang ditentukan.[28]
          Untuk menentukan prosentase siswa yang mendapat nilai, diambil dari nilai gabungan antara nilai tes formatif dan sumatif.[29]
          Tes formatif diselenggarakan pada saat proses berlangsungnya proses belajar mengajar yang mencakup semua unit pengajaran yang diajarkan dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar yang berfungsi sebagai perbakan maupun penyempuranaan.[30]
          Tes sumatif merupakan tes akhir semester yang bertujuan mengukur keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh, materi yang diujikan seluruh pokok bahasan dan tujuan pengajaran dalam satu program tahunan dan semesteran, masing-masing pook bahasan terwakili dalam butir soal.[31]
            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

            Dalam belajar perlu usaha agar anak dapat memusatkan jiwanya kepada ajaran yang sedang dipelajari.[32]
            Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa digolongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan ekstern.
            a.  Faktor Intern
              Menurut Sumadi Surya Brata, menyebutkan bahwa faktor intern terdiri dari fisiologis yang merupakan keadaan jasmani terutama panca indera sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh dari luar dan psikologis.[33]
              1)      Faktor Fisiologis
              Keadaan jasmani atau fisik merupakan pengaruh yang berhubungan dengan kondisi jasmani yakni sanggup tidaknya, kuat tidaknya, mampu tidaknya untuk melaksanakan keputusan kemauan.[34]
              Sebelum proses psikologis yang terjadi didalam otak sebagai pusat susunan urat syaraf maka individu harus dapat menyadari atau mempersepsi apa yang diterima melalui alat indera.[35]
              Telinga merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada disekitarnya dengan cara mendengarkan atau merespon stimulus dari luar yang berupa bunyi yang merupakan getaran  udara atau getaran medium lain.[36]
              Jadi panca indera memegang peranan yang sangat penting, terutama mata dan telinga dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajar.[37]
              2)      Faktor Psikologis
              Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain :
              a)      Minat
              Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada pilihan tertentu.[38]
              Sedangkan menurut Slamet, minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus.[39]
              Minat merupakan motif yang tertuju kepada sesuatu obyek yang khusus.[40]
              Untuk menciptakan minat yaitu dengan cara menjadikan belajar itu dirasakan penting oleh anak.[41]
              b)      Perhatian
              Menurut Sumadi Surya Brata, perhatian adalah pemusatan tenaga psikis yang tertuju kepada sesuatu obyek.[42]
              Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu obyek tertentu.[43]
              Dalam proses belajar mengajar jika siswa mempunyai perhatian penuh terhadap pelajaran yang diberikan guru, maka kemungkinan iapun akan mendapatkan hasil atau prestasi belajar yang memuaskan.[44]
              c)      Motif
              Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendukung individu untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna untuk mencapai sesuatu tujuan.[45]
              Seseorang yang butuh prestasi, ia akan bekerja keras secara baik dalam belajar, bekerja ataupun dalam aktifitas-aktifitas yang lain.[46]
              b.  Faktor Ekstern
                Yaitu pertama, faktor non-sosial, faktor ini merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa dalam mempengaruhi prestasi belajarnya, seperti keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang, ataupun malam), tempat (letak gedung), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita sebut alat-alat pelajaraan).[47] Kedua, faktor sosial, faktor sosial disini adalah faktor manusia (sesama manusia) dalam hal ini yang sifatnya mengganggu konsentrasi, seperti pada saat belajar ada anak yang hilir mudik keluar masuk kamar belajar, suara musik yang dibunyikan seseorang pada saat belajar sedang berlangsung.[48]
                Untuk itu seseorang harus pandai mengatur dirinya terhadap faktor-faktor tersebut agar dapat belajar dengan baik sehingga mencapai prestasi belajar yang baik pula.[49]


                [1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Dep. P dan K, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hal. 787
                [2] Muchtar Buchori, Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan, Jemmars, Bandung, 1985, hal. 178
                [3] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal.  49
                [4] WS. Winkell, Psikologi Pengajaran, Media Abadi, Yogyakarta, 2004, hal. 59
                [5] S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hal. 35
                [6] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, PT. Bumi Aksara, Jakarta, hal. 39
                [7] Imaduddin Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar Pada Anak-Anak, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, hal. 40
                [8] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 1995, hal. 61
                [9] Mukhtar Bukhori, Tehnik-Tehnik Belajar dan Mengajar, PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1990, hal. 98
                [10] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, PT, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1997, hal. 107
                [11] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999, hal. 198
                [12] Ibid., hal. 199
                [13] Ibid., hal. 193
                [14] Depag RI, Pelajaran Bahasa Arab Untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas III, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Depag RI, Jakarta, 2002, hal. 3
                [15] Depag RI, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi/IAIN, Jakarta, 1975, hal. 122
                [16] Noor Bari, Metodologi Pengajaran Bahasa, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1985, hal. 17
                [17] Ibid., hal. 22
                [18] Ibid., hal. 22-23
                [19] Mahmud Yunus, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Hida Karya Agung, Jakarta, 1997, hal. 68
                [20] Abu Bakar Muhammad, Metode Khusus Pengajaran Bahasa Arab,
                [21] Noor Bari, Op.Cit., hal. 31
                [22]Depag RI, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi/IAIN, Jakarta, 1975, hal. 87
                [23]Chatibul Umam, Aspek-Aspek Fundamental Dalam Mempelajari Bahasa Arab, PT. al-Ma’arif, Bandung, 2000, hal. 18
                [24]Muchtar Yahya Nasrudin, Faanut Tarbiyah, Sumbangsih, Papringan, 1999, hal. 45
                [25] Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 144-145
                [26] Muhibbin Syah, Op.Cit, hal. 196
                [27] Ibid, hal. 196
                [28] H. Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1999, hal. 217
                [29] Ibid., hal. 217
                [30] M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, hal. 47
                [31] Ibid, hal. 48
                [32] H. Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hal. 153
                [33] Sumadi Surya Brata, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, 1998, hal. 235
                [34] H. Abu Ahmadi, Op.Cit, hal. 139
                [35] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, ANDI, Yogyakarta, 2002, hal. 95
                [36] Ibid, hal. 99-100
                [37] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 235
                [38] Andi Mapiare, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1992, hal. 62
                [39] Slamet, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal. 58
                [40] H. Abu Ahmadi, Op.Cit, hal. 143
                [41] Imaduddin Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar Pada Anak-Anak, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, hal. 37
                [42] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 14
                [43] H. Abu Ahmadi, Op.Cit, hal. 151
                [44] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 15
                [45] Ibid., hal. 70
                [47] Imaduddin Ismail, Op.Cit., hal. 169
                [48] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 233
                [49] Ibid, hal. 234