Kategori

Cara Memainkan Alat Musik Tradisional Tehyan Asal Budaya Betawi

Diposkan oleh On 5:34 PM

Cara Memainkan Alat Musik Tradisional Tehyan Asal Budaya Betawi

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk dalam bidang seni musik tradisional. Salah satu alat musik yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Betawi adalah Tehyan. Alat musik ini memiliki bentuk yang unik dan menghasilkan suara khas ketika dimainkan. Tehyan termasuk alat musik gesek dan dikenal sebagai salah satu instrumen dalam kesenian Gambang Kromong. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mencatat Tehyan sebagai salah satu alat musik yang digunakan dalam orkes Gambang Kromong.

Mengenal Alat Musik Tehyan

Tehyan merupakan alat musik tradisional yang berkembang dalam lingkungan budaya Betawi dan memiliki pengaruh budaya Tionghoa. Bentuknya menyerupai alat musik gesek seperti rebab atau erhu. Tehyan umumnya memiliki dua senar dan dimainkan menggunakan sebuah busur atau penggesek. Suara yang dihasilkan mempunyai karakter khas sehingga mudah dikenali dalam permainan musik tradisional.

Dalam kesenian Gambang Kromong, Tehyan dimainkan bersama sejumlah instrumen lain. Gambang Kromong sendiri merupakan bentuk kesenian yang menunjukkan pertemuan berbagai unsur budaya, termasuk unsur Betawi dan Tionghoa.

Tehyan termasuk alat musik yang dimainkan dengan cara digesek. Modul pendidikan Kemendikbud juga memasukkan Tehyan sebagai salah satu contoh instrumen gesek tradisional.

Bagian-Bagian Tehyan

Sebelum belajar memainkan Tehyan, penting untuk mengenal bagian-bagian utamanya. Secara umum terdapat bagian pegangan atau leher, kepala alat, senar, badan resonator, serta busur untuk menggesek senar.

Badan resonator berfungsi membantu menghasilkan dan memperkuat suara dari getaran senar. Sementara itu, senar menjadi bagian yang menghasilkan getaran ketika digesek menggunakan busur. Pemain menggunakan tangan untuk mengatur posisi nada pada senar dan tangan lainnya untuk menggerakkan busur.

Cara Memainkan Tehyan

Memainkan Tehyan membutuhkan koordinasi antara tangan kiri dan tangan kanan. Berikut langkah dasar yang dapat dipelajari pemula.

1. Pegang Tehyan dengan Posisi yang Tepat

Pertama, tempatkan Tehyan dalam posisi tegak dan stabil. Badan resonator berada di bagian bawah, sedangkan leher alat mengarah ke atas. Posisi tubuh harus nyaman agar pemain dapat menggerakkan tangan dengan leluasa.

Kestabilan alat sangat penting karena Tehyan tidak dimainkan seperti gitar yang diletakkan mendatar. Pemain harus mampu menjaga alat tetap pada posisi yang sesuai selama permainan.

2. Atur Posisi Jari pada Senar

Gunakan tangan yang memegang bagian leher untuk mengatur nada. Jari-jari digunakan untuk menekan atau menyentuh senar pada posisi tertentu sehingga menghasilkan tinggi nada yang berbeda.

Pada tahap awal, pemain sebaiknya berlatih menemukan posisi nada secara perlahan. Ketepatan posisi jari sangat menentukan kualitas nada yang dihasilkan.

3. Gesek Senar Menggunakan Busur

Langkah berikutnya adalah menggesek senar menggunakan busur. Gerakkan busur secara perlahan dan teratur. Jangan memberikan tekanan yang terlalu kuat karena dapat membuat suara menjadi kasar.

Latihan sebaiknya dimulai dengan gesekan panjang dan stabil. Setelah terbiasa, pemain dapat mempelajari variasi panjang-pendek gesekan sesuai kebutuhan lagu.

4. Koordinasikan Tangan Kiri dan Kanan

Kunci memainkan Tehyan adalah koordinasi. Tangan yang mengatur senar harus bekerja bersama tangan yang menggerakkan busur.

Ketika posisi jari berubah, gerakan busur harus tetap stabil sehingga nada dapat terdengar jelas. Latihan secara perlahan akan membantu pemain mendapatkan koordinasi yang lebih baik.

5. Latihan Irama dan Melodi

Setelah menguasai teknik dasar, pemain dapat mulai berlatih memainkan pola melodi sederhana. Dengarkan contoh permainan Tehyan untuk mengenali karakter bunyinya.

Dalam permainan kelompok, pemain juga perlu memperhatikan tempo dan irama instrumen lain. Tehyan tidak hanya membutuhkan kemampuan menghasilkan nada, tetapi juga kemampuan bermain bersama dalam sebuah ansambel.

Fungsi Tehyan dalam Budaya Betawi

Tehyan memiliki peran penting dalam kesenian tradisional Betawi, terutama dalam lingkungan musik Gambang Kromong. Alat musik ini menjadi salah satu unsur yang memberikan warna suara khas pada pertunjukan.

Keberadaan Tehyan juga menunjukkan adanya proses percampuran budaya dalam perkembangan kesenian Jakarta. Dalam Gambang Kromong, Tehyan, kongahyan, dan sukong termasuk instrumen yang berasal dari unsur budaya Tionghoa, sementara instrumen lainnya berasal dari berbagai latar budaya.

Tips Belajar Tehyan untuk Pemula

Pemula sebaiknya tidak langsung berusaha memainkan lagu yang sulit. Mulailah dengan mengenal bagian alat, memegang Tehyan dengan benar, berlatih menggesek senar secara stabil, kemudian belajar mengatur posisi jari.

Latihan rutin juga sangat diperlukan. Jika memungkinkan, belajar langsung dari pemain atau pelatih musik tradisional akan membantu memahami teknik yang benar. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat pernah menyelenggarakan pelatihan alat musik gesek Betawi, termasuk Tehyan, Kongahyan, dan Sukong.

Kesimpulan

Tehyan merupakan salah satu alat musik tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Betawi. Alat musik ini dimainkan dengan cara digesek dan memiliki karakter suara yang khas. Untuk memainkannya, diperlukan kemampuan menjaga posisi alat, mengatur jari pada senar, menggerakkan busur, serta mengoordinasikan kedua tangan.

Mempelajari Tehyan bukan hanya tentang menguasai teknik bermain musik, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk mengenal dan melestarikan warisan budaya Betawi. Dengan semakin banyak generasi muda yang mengenal dan mempelajarinya, keberadaan Tehyan diharapkan tetap terjaga sebagai bagian dari kekayaan seni budaya Indonesia.

Angklung

Diposkan oleh On 6:52 AM

Orang banyak mencari di Google search mengenai kata kunci Angklung dan banyak sekali website atau blog yang mengunggah artikel dengan judul angklung. Apakah anda tahu bahwa alat musik yang diberi nama Angklung ini adalah alat musik multitonal (bernada ganda) artinya ketika dibunyikan terdengar dua sampai 3 suara dalam satu nada yang bunyinya berbarengan. Nadanya tetap satu, bukan seperti akor dalam musik. Angklung yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, cara memainkan angklung adalah dengan menggetarkan untuk menghasilkan bunyi. 


Perubahan Fungsi Angklung
Angklung dulu dipakai sebagai tanda waktu sembahyang oleh agama Hindu. Dengan berjalannya waktu angklung justru dipakai sebagai alat musik untuk membangkitkan pasukan saat perang Bubat.

Masyarakat sunda dulu dalam mengolah pertanian selalu ada ritual kecil tolak balak. Artinya adalah memohon sang pencipta untuk menjauhkan diri dari segala mara bahaya yang akan merugikan manusia. Dalam ritual ini ternyata masyarakat sunda menggunakan Angklung sebagai alat atau media untuk ritual ini. Harapan mereka adalah agar tidak ada hama dalam musim padi atau musim tanam. dan akhirnya mendapat hasil panen yang melimpah ruah.

Cara Membuat Angklung
Sebelumnya sediakan bambu, sebab bambu adalah bahan baku dari Angklung. Dipilih berdasarkan usia yaitu minimal 4 tahun dan tidak lebih dari 6 tahun dan dipotong pada musim kemarau dari pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore hari. Setelah memotong dasar dari pohon bambu, dengan ukuran kurang lebih 2-3 jengkal dari permukaan tanah, bambu harus disimpan selama sekitar 1 minggu, sehingga bambu benar-benar tidak berisi air. Sebab kalau lembab bambu tersebut, maka suara angklung tidak bisa nyaring.


Tunggu selama satu minggu kemudian setelah seminggu, bambu harus dipisahkan dari cabang-cabangnya, kemudian dipotong menjadi berbagai ukuran tertentu. Hal ini dilakukan agar nantinya memudahkan untuk proses pengasapan, perendaman atau penambahan cairan kimia.

Kemudian, bambu harus disimpan selama sekitar satu tahun untuk mencegah dari gangguan hama. Beberapa prosedur yang dilakukan adalah dengan cara merendam bambu di genangan lumpur, kolam atau sungai, (jawa;Peceren) juga bisa dengan cara diasapi di perapian (diunun), dan prosedur modern: dengan menggunakan formula cairan kimia tertentu dengan cara dioles atau direndam.


Angklung terdiri dari 3 bagian:

Tabung Suara 

Bagian terpenting dari suatu Angklung adalah tabung suara yang menghasilkan intonasi. Proses setem untuk dapat menghasilkan intonasi. Tidak mudah memang, namun jika kita memiliki Keyboard akan lebih mudah menentukan nadanya.

Kerangka

Kerangka tabung untuk tempat berdirinya tabung angklung. Kerangka ini harus standar untuk kapasitas jumlah tabung angklung nya. Jika butuh pemasangan dua tabung angklung, maka kerangka disesuaikan dengan besarnya tabung angklung

Dasar
Berfungsi sebagai kerangka tabung suara.


Proses Penyeteman
Pembentukan tabung suara 

Ini adalah proses membentuk bambu menjadi sebilah tabung suara.

Proses Penyeteman
Ini adalah proses meniup bagian bawah tabung angklung dan menyamakan suaranya ke alat tuner atau bisa menyamakannya dengan nada-nada yang ada di keyboard. Hal ini dilakukan agar menghasilkan suara angklung dengan nada standar Internasional.

Proses utama dari penyeteman

Ini adalah proses penyeteman suara dengan meninggikan dan menurunkan nada dengan membunyikan nadanya. Dan ini juga merupakan proses meninggikan nada dengan memotong bagian atasnya sedikit, dan menurunkan nada dengan menyerut kedua sisi bilah tabung dengan pisau.




Tahap Akhir
Setelah masing-masing tabung suara memiliki nada, tabung harus diletakkan ke dalam rangka dan diikat dengan tali rotan.

Pemeliharaan
Menala / Men-stem Angklung



Apabila suara Angklung menjadi lebih tinggi, hendaknya daun Angklung (sisi A) diraut dengan pisau raut sedikit demi sedikit hingga mencapai suara yang dikehendaki.


Apabila suara Angklung menjadi lebih rendah, hendaknya ujung Angklung (sisi B) dipotong sedikit demi sedikit sehingga suaranya menjadi normal kembali.

Penyimpanan dan Pemeliharaan Angklung

Untuk dimaklumi bahwa Angklung terbuat dari bahan bambu, konstruksi atau kekuatannya tidak seperti bahan logam, sehingga perlu pemeliharaan dan penyimpanan yang baik. Angklung yang baik terbuat dari bahan bambu yang telah melewati proses quality control yang baik. Lama penyimpanan bambu sebelum diproses menjadi Angklung sedikitnya harus berumur satu tahun. Proses pengeringan bambu ini berfungsi agar Angklung yang dibuat menghasilkan suaranya tepat/nyaring dan tidak mudah terkena hama rayap. Usia Angklung apabila perawatannya baik dapat mencapai 10 tahun.

Berikut adalah langkah- langkah yang dapat dilakukan untuk memelihara instrumen Angklung:

  • Begitu Angklung tiba di tempat yang baru, segeralah buka dan gantungkan pada tiang standard yang telah disediakan. Penyimpanan dalam kardus/tempat tertutup lebih dari 7 hari dapat mengakibatkan perubahan suara dan penjamuran pada bambu.
  • Penyimpanan Angklung sebaiknya dengan cara digantung, tidak ditumpuk.
  • Penyimpanan Angklung haruslah di tempat kering dan tidak lembab dengan temperatur berkisar 25 – 33 C.
  • Jangan simpan Angklung di tempat terbuka yang mendapatkan sinar matahari/hujan secara langsung.
  • Untuk memelihara Angklung dari penjamuran dan rayap, gunakan obat anti rayap dan jamur produksi SAU secara teratur 2 minggu sekali dengan proses penyemprotan.
  • Untuk menjaga kualitas suara lakukanlah penalaan/re-tuning Angklung secara berkala.
  • Bagi Angklung yang disimpan di daerah panas dengan suhu temperatur >30 C terkadang menyebabkan sedikit retak pada pangkal tabung. Hal ini tidak mengganggu suara, dan penanganannya cukup diberikan lem kayu. (sumber: angklung ujo)