Kategori

Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Diposkan oleh On 10:35 PM

Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
a. Prestasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang dicapai dari yang telah dilaksanakan atau dikerjakan.[1]
Sedangkan menurut Muchtar Buchari, prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atau seharusnya tercapai.[2]
b.  Belajar
Belajar merupakan hal yang kompleks, karena banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mengenai pengertian belajar para ahli berbeda dalam mengemukakan argumentasinya.
Menurut M. Dalyono, belajar adalah suatu usaha, perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki baik fisik, mental serta dana, panca indera, otak dan anggota tubuh lainnya, demikian aspek-aspek kejiwaan seperti intelegensi, bakat, motivaasi, minat dan sebagainya.[3]
Menurut Winkell, belajar adalah dapat didefinisikan mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pemahaman-pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.[4]
Di sisi lain Hilgard sebagaimana yang dikutip S. Nasution mengatakan Lerning is the prosess by which an activity originates or is changed trough training procedurs. Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan.[5]
Menurut Oemar Hamalik, belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.[6] Belajar akan lebih baik apabila si anak memahami dan mengetahui lebih dulu apa yang akan dipelajarinya.[7]
c.  Prestasi Belajar
Berbicara tentang prestasi belajar tidak bisa lepas dari pengetahuan elemen-elemen apa saja yang esensial dalam belajar itu. Menurut Gegne sebagaimana yang dikutip Ahmad Tafsir, bahwa elemen-elemen yang esensial dalam belajar ada 3 yaitu: Pelajaran, stimulus (materi pelajaran) dan respon (daya serap siswa).[8]
Menurut Mukhtar Bukhori prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah mengkuti usaha melalui pendidikan dan latihan.[9]
Sedangkan menurut Ngalim Purwanto bahwa yang dimaksud prestasi belajar adalah kemampuan maksimal dan tertinggi pada saat tertentu oleh seorang anak dalam rangka mengadakan hubungan rangsang dan reaksi yang akhirnya terjadi suatu proses perubahan untuk memperoleh kecakapan dan ketrampilan.[10]
Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam skripsi ini adalah hasil atau prestasi belajar bidang studi bahasa Arab, artinya hasil nyata yang dapat dicapai oleh siswa pada saat tertentu dalam bidang studi bahasa Arab.
Tujuannya adalah untuk evaluasi sejauhmana kecakapan siswa dalam hal ini kognitif, afektif dan psikomotor.[11]
2.       Indikator Prestasi Belajar Bahasa Arab
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau yang hendak diukur).[12] Dan indikator tersebut meliputi ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), ranah karsa (psikomotor).[13]
Adapun indikator pencapaian hasil belajar bahasa Arab yaitu sebagai berikut:
  1. Menyusun kalimat dengan menggunakan kata-kata yang disediakan.
  2. Melakukan tanya jawab dengan mufrodat dan struktur kalimat yang diajarkan.
  3. Menggunakan mufrodat dengan tepat dalam kalimat-kalimat yang disediakan.
  4. Menggunakan pola-pola kalimat maupun ungkapan-ungkapan yang telah mereka pelajari.[14]
Untuk mencapai indikator prestasi hasil belajar bahasa Arab, maka diperlukan adanya ranah yang bersifat kognitif dari peserta didik, karena ini akan membentuk siswa mampu berbahasa Arab dengan baik. Dan ranah ini meliputi aspek-aspek kemampuan yang berupa kecakapan baik secara aktif maupun secara pasif, kecakapan ini meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.[15]
e.    Kecakapan Mendengar/Menyimak
Kecakapan menyimak atau mendengar (الاستماع) ini bersifat pasif hanya menerima apa yang disampaikan saja oleh pembicara atau penulis dalam bahasa lisan dengan secara tepat dan urutan yang benar.[16]
Adapun manfaat bagi siswa yang mampu menyimak dengan baik adalah:
1)      Mampu menguasai sistem bunyi bahasa.
2)      Mempu memiliki sejumlah kosa kata (mufrodat) kelompok kata ataupun ungkapan kata.
3)      Memperluas wawasan kebangsaan.
4)      Dapat memperkaya pengetahuan.[17]
Dalam buku “Metodologi Pengajaran Bahasa” kecakapan menyimak bertujuan agar siswa dapat menangkap ungkapan orang lain dengan menyimak dan memahami karya fikiran orang lain dengan cara:[18]
1)      Cepat, artinya seorang siswa hendak selalu siap dan tanggap untuk menangkap buah fikiran orang lain yang diungkapkannya dalam waktu normal.
2)      Cermat, artinya seorang siswa selalu bersikap teliti serta hati-hati dalam menangkap karya fikiran orang lain dengan penuh kesadaran diri sendiri.
3)      Tepat, artinya seorang siswa harus dapat menangkap ucapan orang lain dengan cara yang tepat, tidak mengurangi dan tidak pula menambahi. Sehingga hanya akan menambah kaburnya pengertian yang terkandung.
f.  Kecakapan Berbicara
    Dalam bahasa Arab, kecakapan ini dikenal dengan (المحادثه) yang berarti bercakap-cakap atau berbicara bersifat aktif, karena di dalamnya terdapat suatu kecakapan. Ini mendorong untuk dapat mengungkapkan dan menerangkan dengan lisan apa yang tersirat dalam hati dengan bahasa ucapan yang benar serta sesaui dengan apa yang dimaksud.[19]
    Kemampuan menggunakan bahasa lisan dalam bahasa Arab mempunyai tujuannya yang hendak dicapai sebagai berikut:
    1)   Agar para siswa terbiasa bercakap-cakap dengan bahasa Arab yang fasih.
    2) Agar para siswa pandai mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya serta mampu menyusun kalimat sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar.
    3) Agar para siswa pandai memilih kata-kata dan kalimat, kemudian mampu menyusun dengan memilih susunan bahasa yang indah dan sesuai aturan.[20]
    g.  Kecakapan Membaca
      Membaca dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah (القرأة dan المطالعه) dalam pelajaran membaca yang ditekankan adalah siswa dapat menangkap bahasa tulisan dengan cermat sesuai dengan struktur bahasa yang benar.[21]
      h.  Kecakapan Menulis
        Kecakapan menulis adalah kemampuan memilih kata dalam menyusun suatu kalimat, tentunya dengan menggunakan ceramatika bahasa yang benar.[22]
        Untuk menyusun sebuah kalimat, tentunya tidak akan terlepas dari tiga komponen yaitu subyek, predikat, dan obyek, maka dalam struktur bahasa Arab tidak hanya mempelajari aspek morfologi (الصرف), tetapi lebih penting adalah mengerti kedudukan kata dalam kalimat.[23]
        Metode campuran merupakan kombinasi dari metode ceramah dengan Qowaid. Dengan pengertian guru menjelaskan lebih dahulu dengan menggunakan ceramah, setelah itu menyimpulkan kaidah, maka guru memberikan contoh untuk menerapkan kaidah itu.[24]
        3.  Batas Minimal Prestasi Belajar
          Seorang guru harus memiliki acuan penilaian atau patokan yang merupakan penilaian yang dilaksanakan dengan menetapkan lebih dulu patokan yang dipakai sebagai pembanding terhadap semua hasil pengukuran.[25]
          Setelah mengetahui indikator prestasi belajar belajar, guru perlu pula mengetahui bagaimana kiat menetapkan batas minimal keberhasilan belajar para siswa dengan mempertimbangkan batas terendah prestasi siswa yang dianggap berhasil dalam arti luas yaitu keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.[26]
          Ada beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dengan angka terendah yang menyatakan kelulusan/ keberhasilan belajar (passing grade) skala 0–10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0-100 adalah 55 atau 60.[27]
          Siswa dikatakan menguasai bahan apabila siswa mencapai sekurang-kurangnya 75 % tujuan instruksional khusus yang ditentukan.[28]
          Untuk menentukan prosentase siswa yang mendapat nilai, diambil dari nilai gabungan antara nilai tes formatif dan sumatif.[29]
          Tes formatif diselenggarakan pada saat proses berlangsungnya proses belajar mengajar yang mencakup semua unit pengajaran yang diajarkan dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar yang berfungsi sebagai perbakan maupun penyempuranaan.[30]
          Tes sumatif merupakan tes akhir semester yang bertujuan mengukur keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh, materi yang diujikan seluruh pokok bahasan dan tujuan pengajaran dalam satu program tahunan dan semesteran, masing-masing pook bahasan terwakili dalam butir soal.[31]
            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

            Dalam belajar perlu usaha agar anak dapat memusatkan jiwanya kepada ajaran yang sedang dipelajari.[32]
            Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa digolongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan ekstern.
            a.  Faktor Intern
              Menurut Sumadi Surya Brata, menyebutkan bahwa faktor intern terdiri dari fisiologis yang merupakan keadaan jasmani terutama panca indera sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh dari luar dan psikologis.[33]
              1)      Faktor Fisiologis
              Keadaan jasmani atau fisik merupakan pengaruh yang berhubungan dengan kondisi jasmani yakni sanggup tidaknya, kuat tidaknya, mampu tidaknya untuk melaksanakan keputusan kemauan.[34]
              Sebelum proses psikologis yang terjadi didalam otak sebagai pusat susunan urat syaraf maka individu harus dapat menyadari atau mempersepsi apa yang diterima melalui alat indera.[35]
              Telinga merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada disekitarnya dengan cara mendengarkan atau merespon stimulus dari luar yang berupa bunyi yang merupakan getaran  udara atau getaran medium lain.[36]
              Jadi panca indera memegang peranan yang sangat penting, terutama mata dan telinga dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajar.[37]
              2)      Faktor Psikologis
              Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain :
              a)      Minat
              Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada pilihan tertentu.[38]
              Sedangkan menurut Slamet, minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus.[39]
              Minat merupakan motif yang tertuju kepada sesuatu obyek yang khusus.[40]
              Untuk menciptakan minat yaitu dengan cara menjadikan belajar itu dirasakan penting oleh anak.[41]
              b)      Perhatian
              Menurut Sumadi Surya Brata, perhatian adalah pemusatan tenaga psikis yang tertuju kepada sesuatu obyek.[42]
              Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu obyek tertentu.[43]
              Dalam proses belajar mengajar jika siswa mempunyai perhatian penuh terhadap pelajaran yang diberikan guru, maka kemungkinan iapun akan mendapatkan hasil atau prestasi belajar yang memuaskan.[44]
              c)      Motif
              Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendukung individu untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna untuk mencapai sesuatu tujuan.[45]
              Seseorang yang butuh prestasi, ia akan bekerja keras secara baik dalam belajar, bekerja ataupun dalam aktifitas-aktifitas yang lain.[46]
              b.  Faktor Ekstern
                Yaitu pertama, faktor non-sosial, faktor ini merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa dalam mempengaruhi prestasi belajarnya, seperti keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang, ataupun malam), tempat (letak gedung), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita sebut alat-alat pelajaraan).[47] Kedua, faktor sosial, faktor sosial disini adalah faktor manusia (sesama manusia) dalam hal ini yang sifatnya mengganggu konsentrasi, seperti pada saat belajar ada anak yang hilir mudik keluar masuk kamar belajar, suara musik yang dibunyikan seseorang pada saat belajar sedang berlangsung.[48]
                Untuk itu seseorang harus pandai mengatur dirinya terhadap faktor-faktor tersebut agar dapat belajar dengan baik sehingga mencapai prestasi belajar yang baik pula.[49]


                [1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Dep. P dan K, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hal. 787
                [2] Muchtar Buchori, Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan, Jemmars, Bandung, 1985, hal. 178
                [3] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal.  49
                [4] WS. Winkell, Psikologi Pengajaran, Media Abadi, Yogyakarta, 2004, hal. 59
                [5] S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hal. 35
                [6] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, PT. Bumi Aksara, Jakarta, hal. 39
                [7] Imaduddin Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar Pada Anak-Anak, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, hal. 40
                [8] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 1995, hal. 61
                [9] Mukhtar Bukhori, Tehnik-Tehnik Belajar dan Mengajar, PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1990, hal. 98
                [10] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, PT, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1997, hal. 107
                [11] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999, hal. 198
                [12] Ibid., hal. 199
                [13] Ibid., hal. 193
                [14] Depag RI, Pelajaran Bahasa Arab Untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas III, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Depag RI, Jakarta, 2002, hal. 3
                [15] Depag RI, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi/IAIN, Jakarta, 1975, hal. 122
                [16] Noor Bari, Metodologi Pengajaran Bahasa, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1985, hal. 17
                [17] Ibid., hal. 22
                [18] Ibid., hal. 22-23
                [19] Mahmud Yunus, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Hida Karya Agung, Jakarta, 1997, hal. 68
                [20] Abu Bakar Muhammad, Metode Khusus Pengajaran Bahasa Arab,
                [21] Noor Bari, Op.Cit., hal. 31
                [22]Depag RI, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi/IAIN, Jakarta, 1975, hal. 87
                [23]Chatibul Umam, Aspek-Aspek Fundamental Dalam Mempelajari Bahasa Arab, PT. al-Ma’arif, Bandung, 2000, hal. 18
                [24]Muchtar Yahya Nasrudin, Faanut Tarbiyah, Sumbangsih, Papringan, 1999, hal. 45
                [25] Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 144-145
                [26] Muhibbin Syah, Op.Cit, hal. 196
                [27] Ibid, hal. 196
                [28] H. Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1999, hal. 217
                [29] Ibid., hal. 217
                [30] M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, hal. 47
                [31] Ibid, hal. 48
                [32] H. Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hal. 153
                [33] Sumadi Surya Brata, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, 1998, hal. 235
                [34] H. Abu Ahmadi, Op.Cit, hal. 139
                [35] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, ANDI, Yogyakarta, 2002, hal. 95
                [36] Ibid, hal. 99-100
                [37] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 235
                [38] Andi Mapiare, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1992, hal. 62
                [39] Slamet, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal. 58
                [40] H. Abu Ahmadi, Op.Cit, hal. 143
                [41] Imaduddin Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar Pada Anak-Anak, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, hal. 37
                [42] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 14
                [43] H. Abu Ahmadi, Op.Cit, hal. 151
                [44] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 15
                [45] Ibid., hal. 70
                [47] Imaduddin Ismail, Op.Cit., hal. 169
                [48] Sumadi Surya Brata, Op.Cit, hal. 233
                [49] Ibid, hal. 234

                Dampak dan Tingkat Kesulitan Metode Qowaid al-Lughoh

                Diposkan oleh On 10:19 PM

                Dampak dari Metode Qowaid al-Lughoh

                Banyak sekali metode-metode yang sangat efektif namun pemilihan metode tidak boleh sembarangan harus mengetahui faktor-faktor dalam menentukan metode.[1]
                Pemilihan dan penentuan metode secara umum dipengaruhi oleh lima faktor:
                1. Anak didik, perbedaan individual anak didik pada aspek biologis, intelektual, psikologis mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode yang sebaiknya guru ambil dalam menciptakan lingkungan belajar yang kreatif dalam waktu yang relatif lama demi tercapainya tujuan pengajaran yang telah dirumuskan secara oprasional.
                2. Tujuan, metode yang dipilih guru harus sejalan dengan taraf kemampuan yang hendak diisi kedalam diri setiap anak didik.
                3. Situasi, situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari kehari.
                4. Fasilitas, lengkap dan tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode.
                5. Guru, kepribadian, latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah permasalahan intern guru yang dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode.[2]
                Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari metode Qowaid al-Lughoh alangkah baiknya kita mengetahui kekuatan dan kelemahan dari metode tersebut. Setelah itu kita mempunyai gambaran terhadap dampak yang ditimbulkan baik dampak positif maupun dampak nagatif.
                Kekuatan pengajaran Qowaid al-Lughoh adalah:
                1. Pelajar menguasai dalam arti hafal diluar kepala kaidah-kaidah tata bahasa bahasa target.
                2. Pelajar memahami karakteristik bahsa target dan banyak hal lainnya yang bersifat teoritis, dan dapat membandingkannya dengan karakteristik bahasa ibu.
                3. Metode ini memperkuat kemampuan pelajar dalam mengingat dan menghafal.
                4. Bisa dilaksanakan dalam kelas besar dan tidak menuntut kemampuan guru yang ideal.[3]
                Kelemahan-kelemahan dari Metode Qowaid al-Lughoh adalah:
                1. Metode ini lebih banyak mengajarkan “tentang bahasa” bukan mengajarkan “kemahiran bahasa”.
                2. Metode ini hanya mengajarkan kemahiran membaca, sedang tiga kemahiran yang lain (menyimak, berbicara, menulis) diabaikan.
                3. Pelajar hanya mempelajari satu ragam bahasa saja, yaitu ragam bahasa tulis klasik, sedang bahasa tulis modern dan bahasa percakapan tidak diperoleh.
                4. Kosa kata, struktur, dan ungkapan yang dipelajari oleh siswa mungkin sudah tidak dipakai lagi dalam arti yang berbeda dalam bahasa modern.
                5. Karena otak siswa dipenuhi oleh masalah-masalah tata bahasa maka tidak tersisa lagi tempat untuk ekspresi dan kreasi.[4]
                Dampak positif dari metode tersebut adalah mampu menjawab soal-soal tes dengan akurat ini disebabkan katena pelajar menguasai dalam arti hafal diluar kepala kaidah-kaidah tata bahasa (bahasa target).[5]
                Dampak negatif dari metode tersebut adalah siswa cenderung pasif dan kurang kreatif karena penekanannya tidak pada skill menyimak dan berbicara yang sangat menuntut latihan yang sifatnya praktis.[6]
                Tingkat Kesulitan Pengajaran Qowaid al-Lughoh
                Menurut Abu Bakar Muhammad guru harus memperbanyak pelajaran muhadastahmutholaah, dan mahfudzatsebelum memulai pelajaran Qowaid.[7]
                Di dalam proses pengajaran Qowaid al-Lughoh guru memberikan beberapa contoh kalimat, kemudian menyuruh siswa mengeluarkan dari kalimat tersebut, dan contoh-contoh tersebut harus dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti oleh siswa.[8] Karena mengingat bahwa aspek-aspek perbedaan anak didik yang dipegang adalah aspek biologis, intelektual, dan psikologis.[9]
                Dalam menyampaikan pelajaran bahasa Arab, seorang guru harus menggunakan metode. Dan metode yang cocok dalam pembelajaran ini adalah menggunakan metode ceramah. Karena metode ceramah akan bisa mengajak siswa berinteraksi melalui penerangan dan pemikiran secara lisan dari seorang guru kepada peserta didik.[10]
                Dalam pelaksanaannya sebuah interaksi dalam pemikiran, misalnya penceramah dapat menggunakan alat bantu untuk menjelaskan uraiannya. Akan tetapi alat utama dengan kelompok atau pendengar adalah menggunakan bahasa lisan.[11]
                Dari kedua definisi tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa metode ceramah adalah penyampaian materi kepada peserta didik dengan jalan pemikiran secara lisan dan metode ini senantiasa baik bila  dalam penggunaannya didukung dengan alat-alat bantu atau media sebagai pendukung dalam pembelajarannya.[12]
                B.       Prestasi Belajar Dalam Bidang Studi Bahasa Arab
                Prestasi belajar bidang studi bahasa Arab, terdiri dari tiga rangkaian kata yaitu prestasi, belajar, dan bidang studi Bahasa Arab. Oleh karena itu sebelum mendefinisikan pengertian prestasi belajar bidang studi bahasa Arab, terlebih dahulu akan ditentukan pengertian ketiga istilah tersebut.



                Refferensi
                [1] Winarno Surakhmad, Metodologi Reseach, PT. Tarsindo, Bandung, 1975, hal. 96
                [2] Ibid., hal. 97
                [3] Ahmad Fuad Efendi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Misykat, Malang, 2004, hal. 33
                [4] Ibid., hal. 33
                [5] Ibid., hal. 34
                [6] Ibid, hal. 34
                [7] Abu Bakar Muhammad, Metode Khusus Pengajaran Bahasa Arab, Usaha Nasional, Surabaya, 1981, hal. 85
                [8] Ibid, hal. 85
                [9] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 191
                [10] Winarno Surahmad, Pengantar Belajar Mengajar, Tarsito, Bandung, 1986, hal. 99
                [11] Ibid., hal. 99
                [12] M. Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Press, Jakarta, 2002, hal. 55

                Karakteristik Metode Pengajaran Qowaid al-Lughoh

                Diposkan oleh On 10:16 PM


                Karakteristik metode pengajaran Qowaid al-Lughoh:
                1. Tujuan mempelajari bahasa asing agar mampumembaca karya sastra dalam bahasa target/ kitab keagamaan dalam belajar bahasa arab.
                2. Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu , kamus atau daftar kata, dan teks bacaan.
                3. Tata bahasa disajikan secara deduktif, yakni mulai dengan penyajian kaidah diikuti dengan contoh-contoh, dan dijelaskan secara rinci dan panjang lebar.
                4. Kosa kata diberikan dalam bentuk kamus dwi bahasa, atau daftar kosakata beserta terjemahannya.
                5. Teks bacaan berupa kitab keagamaan lama.
                6. Basis pembelajaran adalah penghafalan kaidah tatabahasa dan kosakata.
                7. Bahasa ibu pelajar digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar.
                8. Peran guru aktif sebagai penyaji materi. Peran pelajar pasif sebagai penerima materi.[1]

                3.   Pemilihan Metode Pengajaran Qowaid al-Lughoh
                  Beberapa alasan kenapa metode tersebut menjadi pilihan. Ini dikarenakan seseorang yang memiliki kompetensi tata bahasa (Qowaid al-Lughoh) ia akan memilki kemampuan menghasilkan kalimat dalam jumlah yang tak terbatas, yang sebagan besar adalah kalimat-kalimat baru.[2] Grammar (tata bahasa) adalah ilmu yang mempelajarai kalimat tentang analisis dan analogical.[3] Dengan mempelajari Qowaid al-Lughoh maka akan terhindar dari kekeliruan dan kesalahan pengertian dalam memahami Bahasa Arab.[4]  Seseorang yang mau mempelajari Al-Qur’an dan mau menafsirkan Al-Qur’an tanpa mempelajari Qowaid al-Lughoh maka akan terjadi salah penafsiran terhadap isi Al-Qur’an.[5]
                  Bahasa Arab sebagai bahasa resmi al-Qur’an. Banyak disebutkan dalam al-Qur’an, antara lain tertera dalam QS. Yusuf: 2
                  إناانزلنه قرأنا عربيالعلكم تعقلون (يوسف : ٢)
                  Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya”. (QS. Yusuf: 2).
                  Menurut Soenjono guru harus menguasai tata bahasa secara formal, artinya tidak saja daia harus bisa bertata bahasa dengan baik tetapi juga menjelaskan mengapa ini harus begitu.[6] Bahkan dengan metode ini test bahasa mudah disusun dan dikontrol.[7] Yang namanya national dan fungsional Sillabus itu harus pula mencakup tata bahasa.[8]
                  Metode pengajaran Qowaid al-Lughoh sangat diutamakan, dan diajarkan secara deduktif, dengan tujuan para pengajar dapat menghafal definisi-definisi dan kaidah-kaidah nahwu di luar kepala. Dengan cara menggunakan materi dalam bentuk nadzam seperti Alfiyah karya ibnu malik untuk memudahkan menghafal.[9]
                  Dalam tata bahasa Arab perlu mengetahui adanya tiga struktur (الكلمه) yang mempunyai arti lafadz yang menunjukkan atau mengandung arti sesuatu.[10]
                  Dalam memahami teks bahasa Arab, maka harus ada tiga unsur yaitu isim, fiil, dan huruf.[11] Karena kalimat dikatakan sempurna dan bisa dipahami apabila ada isim, fiil, dan huruf.


                  [1] Ahmad Fuad Efendi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Misykat, Bandung, 2004, hal. 32.
                  [2] Wilkins D.A, Linguistics in Languaga Teaching, Chooser Press, London, hal. 182
                  [3] Paul Robert, Op. Cit., hal. 132
                  [4] Chatibul Umam dkk, Op.Cit., hal. 59
                  [5] Ibid., hal. 59-60
                  [6] Soenjono Dardjowidjojo, Rampai Bahasa Pendidikan dan Budaya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2003, hal. 122
                  [7] Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa AsingSebuah Tinjauan Dari Segi Metodologi, Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hal. 36
                  [8] Ibid., hal. 8
                  [9] Ibid., hal. 35.
                  [10] Thoifuri, Granmar For Two Language Arabic and English, CV. Aman Karya, Semarang, 2002, hal. 8
                  [11] Zaini Dahlan, Sarah al Jurumiyah, Pustaka Alawiyah, Semarang, 1997, hal. 6